TABLOIDTIRAI.COM - Amerika Serikat (AS) mulai mempercepat langkah untuk meningkatkan produksi persenjataan setelah konflik dengan Iran berdampak pada berkurangnya sejumlah stok amunisi militer.
Pentagon meminta perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor industri pertahanan untuk segera memperbesar kapasitas produksi dan memangkas waktu pengiriman berbagai jenis senjata yang dibutuhkan.
Wakil Menteri Pertahanan AS Steve Feinberg memberikan batas waktu 21 hari kepada para pimpinan industri pertahanan untuk menyampaikan rencana percepatan produksi serta pengadaan sejumlah persenjataan strategis.
“Siklus pengembangan yang memakan waktu bertahun-tahun tidak dapat diterima. Kita harus mempercepat jadwal program kita secara drastis dan memperluas kapasitas produksi kita sekarang juga,” kata Feinberg dalam memo yang diperoleh The Washington Post, dikutip Minggu (9/8)..
Juru Bicara Pentagon Sean Parnell membenarkan kebijakan tersebut. Ia mengatakan Departemen Pertahanan AS kini memprioritaskan peningkatan pengadaan amunisi agar kebutuhan pasukan dapat dipenuhi dalam waktu secepat mungkin, menyesuaikan perkembangan ancaman yang dihadapi.
“Senjata yang dibutuhkan para prajurit kita dengan kecepatan yang dituntut oleh ancaman tersebut,” ujarnya.
Parnell menjelaskan, percepatan produksi persenjataan tersebut akan menjadi bagian dari penyusunan anggaran tahun fiskal 2028. Kebijakan itu juga dinilai sejalan dengan upaya pemerintah AS untuk kembali memperkuat basis industri pertahanan nasional.
Dorongan untuk meningkatkan produksi muncul setelah konflik dengan Iran menyebabkan persediaan rudal pencegat Patriot dan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) AS mengalami penurunan signifikan.
Center for Strategic and International Studies (CSIS) memperkirakan persediaan Patriot yang sebelumnya mencapai 2.330 unit sebelum perang berkurang menjadi sekitar 759-827 unit setelah pertempuran terbaru. Artinya, stok tersebut mengalami penurunan sedikitnya 65 persen.
Untuk sistem THAAD, jumlah rudal pencegat juga mengalami penurunan. Dari 452 unit sebelum perang, persediaannya turun menjadi sekitar 232-262 unit pada awal gencatan senjata April.
AS kemudian berhasil menambah sebagian stok tersebut hingga mencapai sekitar 234-278 unit. Meski demikian, jumlah itu masih setidaknya 38 persen lebih rendah dibandingkan kondisi sebelum konflik.
Penurunan persediaan tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko terhadap pasukan AS apabila konflik kembali pecah dan pertempuran dengan Iran berlanjut.
Sebelumnya, Presiden Donald Trump membantah adanya laporan mengenai kekurangan amunisi AS.
Melalui Truth Social, Trump mengatakan Amerika Serikat memiliki persediaan senjata dalam jumlah besar. Ia juga menyebut sebagian persenjataan lainnya masih dalam proses produksi dan dikirim sesuai dengan kebutuhan. (TN)
#Iran #Donald Trump #Rudal