GM PLN UID Riau-Kepri Didik Wicaksono Dalam Sorotan, Fauzi: Jika Tak Bisa Transparan, Mundur Saja !

GM PLN UID Riau-Kepri Didik Wicaksono Dalam Sorotan, Fauzi: Jika Tak Bisa Transparan, Mundur Saja !
GM PT PLN UID Riau-Kepri, Didik Wicaksono, saat kegiatan Donor Darah sempena HUT RI Ke-81 baru-baru ini.

TABLOIDTIRAI.COM — Perkumpulan Mahasiswa Riau menyoroti kinerja General Manager PLN UID Riau dan Kepulauan Riau, Didik Wicaksono. Mahasiswa meminta PLN tak hanya bicara soal gotong royong dan kegiatan seremonial, tetapi membuka persoalan pemerataan listrik dan kualitas layanan di Riau.

Fauzi dari Perkumpulan Mahasiswa Riau mengatakan perayaan HUT ke-81 RI dan kegiatan donor darah yang digelar PLN patut diapresiasi. Namun, menurut dia, persoalan utama pelanggan adalah listrik yang menyala stabil dan menjangkau seluruh wilayah. “Jangan sampai seremoni meriah, tapi di pelosok masih ada masyarakat yang belum menikmati listrik secara penuh,” kata Fauzi, saat jumpa pers, Minggu (16/8) di Jl. Ronggowarsito, Pekanbaru.

Ia merujuk data Pemerintah Kabupaten Bengkalis yang pada 2025 mencatat sekitar 2.610 kepala keluarga belum memperoleh listrik, baik dari PLN maupun sumber non-PLN. Di Kabupaten Siak, pemerintah daerah menargetkan seluruh pelosok wilayah mendapat akses listrik pada 2027.

Fauzi meminta PLN membuka data elektrifikasi hingga tingkat dusun, bukan hanya menggunakan indikator desa berlistrik. “Yang perlu dipastikan adalah rumah warga benar-benar mendapat listrik. Jangan kantor desa sudah terang lalu seluruh desa disebut sudah berlistrik,” ujarnya.

Mahasiswa juga meminta PLN transparan mengenai gangguan jaringan, susut listrik, penjualan tenaga listrik, subsidi dan kompensasi. Fauzi mengatakan pihaknya tidak menuduh adanya kebocoran pendapatan PLN di Riau tanpa bukti audit. “Kalau tidak ada kebocoran, buka datanya. Publik berhak tahu bagaimana listrik dikelola,” tandas Fauzi.

Ia mengaitkan desakan itu dengan temuan BPK secara nasional mengenai pengelolaan subsidi dan kompensasi listrik yang antara lain berpotensi menimbulkan kekurangan penerimaan penjualan tenaga listrik PLN.

Menurut Fauzi, temuan tersebut tidak dapat otomatis disebut sebagai kebocoran di Riau. Namun, kasus itu menunjukkan pentingnya pengawasan terhadap pengelolaan sektor kelistrikan. “Justru karena tidak ingin menuduh, kami meminta data dibuka. Biarkan publik yang menilai,” ujarnya.

Fauzi juga menyoroti pernyataan Didik Wicaksono bahwa PLN membutuhkan kolaborasi dan sinergi untuk menjaga keandalan pasokan. Menurut dia, pernyataan tersebut harus diikuti ukuran kinerja yang dapat diuji publik, frekuensi pemadaman, lama gangguan, wilayah terdampak dan kecepatan pemulihan. “Listrik andal jangan berhenti sebagai slogan. Ukurannya ada di rumah pelanggan,” kata Fauzi.

Ia meminta PLN dan pemerintah daerah menyusun peta wilayah yang belum menikmati listrik secara penuh serta mempublikasikan perkembangan penanganannya.

Fauzi mengatakan kritik tersebut tidak ditujukan kepada petugas teknis yang bekerja di lapangan. “Petugas lapangan bekerja keras. Yang kami minta dievaluasi adalah sistem dan manajemen jika persoalan yang sama terus berulang,” ujarnya.

Perkumpulan Mahasiswa Riau, kata Fauzi, siap berdialog dengan PLN.

“Pak Didik bicara soal kolaborasi. Kami siap. Tetapi kolaborasi juga berarti PLN harus siap menerima kritik dan membuka data kepada masyarakat. Jika tak bisa transparan, baiknya undur diri saja," tutupnya.

Hingga berita ini diterbitkan, GM PT PLN UID Riau-Kepri, Didik Wicaksono belum bisa dikonfirmasi. (DE)

#PLN #GM UID PLN Riau-Kepri Didik Wicaksono #Pemerataan Listrik Riau