Penyerangan di Kebun Sawit Tambusai Utara, Puluhan Warga Jadi Korban

Penyerangan di Kebun Sawit Tambusai Utara, Puluhan Warga Jadi Korban

TABLOIDTIRAI.COM – Puluhan warga mengalami luka-luka setelah diserang sekelompok orang di sebuah kebun kelapa sawit di Kecamatan Tambusai Utara, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau, Jumat (14/8).

Sehari setelah kejadian, Sabtu (15/8), sejumlah korban mendatangi Polsek Tambusai Utara untuk melaporkan peristiwa tersebut sekaligus menjalani pemeriksaan. Sejumlah korban mengalami luka pada kepala, tangan, kaki, rusuk hingga mata. Beberapa korban juga harus mendapatkan perawatan dan menjalani visum.

Salah seorang korban, Gunawan (31), mengatakan penyerangan terjadi saat dirinya bersama sejumlah pekerja berada di mess setelah selesai membersihkan kebun.

Menurut Gunawan, tiba-tiba datang sekelompok orang menggunakan tiga truk colt diesel dan dua mobil double cabin. Kelompok tersebut kemudian berteriak dan langsung menyerang para pekerja.

"Tiba-tiba datang gerombolan orang tak dikenal dengan tiga truk colt diesel dan dua mobil double cabin. Mereka berteriak 'serang', jadi kami langsung diserang," ujar Gunawan, Sabtu (15/8).

Gunawan mengaku mendapat pukulan menggunakan kayu dan besi hingga mengalami luka pada hidung dan tangan. Ia juga menyebut sempat mendapat ancaman menggunakan senjata api serta kehilangan dua telepon selulernya.

"Saya juga diancam pakai senjata api, dua ponsel saya dijarah," katanya.

Gunawan mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebab penyerangan tersebut. Ia mengatakan dirinya dan para pekerja lainnya berada di lokasi hanya untuk menjalankan pekerjaan.

"Katanya lahan warga ini pro-kontra dengan PT Agrinas. Namun setahu saya, lahan itu punya warga, itulah makanya saya kerja di situ," ujarnya.

Korban lainnya, Rizaldi (44), juga mengalami luka di beberapa bagian tubuh. Ia mengaku kepalanya dipukul, tangan dihantam menggunakan balok kayu dan bagian matanya ditendang.

"Kepala saya bocor dan tangan dihantam pakai balok kayu, mata saya ditendang, saya diseret-seret seperti PKI," ungkap Rizaldi.

Akibat kejadian itu, kedua mata Rizaldi sempat merah dan bengkak. Pandangannya juga sempat kabur setelah mengalami penyerangan.

Rizaldi mengatakan para korban tidak berani melakukan perlawanan karena kelompok tersebut disebut membawa senjata.

"Kami hanya bisa bilang 'aduh, aduh, ampun, ampun, Pak'. Kalau teriak minta tolong, semakin disiksa kami," katanya.

Setelah penyerangan, para korban disebut dikumpulkan dan dibawa keluar dari kawasan perkebunan menggunakan truk. Saat kendaraan melintas di depan Polsek Tambusai Utara, para korban berteriak meminta pertolongan.

"Pas lewat depan kantor polisi (Polsek Tambusai Utara) kami teriak minta tolong," ujarnya.

Rizaldi memperkirakan sekitar 25 orang mengalami luka akibat kejadian tersebut. Sementara itu, sekitar 28 pekerja lainnya disebut masih berada di dalam kawasan kebun dan belum diketahui kondisinya.

"Yang kami pikirkan kawan-kawan di dalam kebun sekitar 28 orang lagi. Belum tahu nasibnya sekarang," katanya.

Juru bicara masyarakat, Abdul Aziz, mengatakan peristiwa penyerangan tersebut telah dilaporkan kepada pihak kepolisian. Ia meminta aparat mengusut dugaan kekerasan tersebut secara menyeluruh dan menangkap pihak yang bertanggung jawab.

Aziz juga menyatakan pihaknya berencana membawa persoalan itu ke Mabes Polri dan DPR RI, serta menyurati Presiden.

"Karena warga memang sedang memperjuangkan hak-haknya," kata Aziz.

Ia menjelaskan konflik tersebut berkaitan dengan pengelolaan perkebunan kelapa sawit masyarakat dengan luas sekitar 2.000 hektare yang berada di Afdeling 19 dan 21.

Menurut Aziz, sekitar 1.015 warga menggantungkan kehidupan dari lahan tersebut.

Ia menyebut lahan sebelumnya dikelola PT Torganda melalui pola kemitraan dengan masyarakat. Dalam pengelolaannya, masyarakat bergabung melalui Koperasi Karya Bakti yang disebut sebagai mitra perusahaan.

Namun pada 2025, Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) melakukan penyitaan terhadap lahan tersebut karena disebut berada di kawasan hutan. Setelah itu, pengelolaan lahan sitaan diserahkan kepada PT Agrinas Palma Nusantara.

Aziz mengatakan sejak pengelolaan beralih, masyarakat tidak lagi memperoleh hasil dari perkebunan tersebut. Kondisi tersebut kemudian mendorong warga memperjuangkan kembali lahan yang mereka klaim sebagai milik masyarakat.

"Karena sudah tidak dapat apa-apa lagi, itulah makanya warga ingin mengambil kembali lahannya untuk masa depan mereka. Namun, upaya ini memicu bentrokan hingga penyerangan terhadap warga," ujarnya.

Aziz juga menduga adanya keterlibatan PT Agrinas Palma Nusantara dalam peristiwa penyerangan tersebut. Namun, tudingan itu masih sebatas dugaan dan belum terbukti, serta menjadi bagian dari laporan dan penyelidikan aparat penegak hukum.

"Kuat dugaan kami penyerangan itu didalangi oleh Agrinas," kata Aziz.

Dugaan tersebut dikaitkan Aziz dengan surat yang disebut dikirim kuasa hukum Agrinas kepada Polres Rokan Hulu pada 14 Agustus 2026.

Menurutnya, salah satu poin dalam surat tersebut meminta agar pihak Agrinas tidak dipersalahkan jika terjadi bentrokan di lapangan.

Aziz mempertanyakan dasar PT Agrinas Palma Nusantara dalam mengelola lahan tersebut setelah diserahkan oleh Satgas PKH.

"Kami ingin tahu dasarnya Agrinas mengatakan itu lahannya apa? Kalau kemudian lantaran pelimpahan dari Satgas PKH, bukan berarti Agrinas langsung bisa seenaknya mengelola lahan itu," ujarnya.

Ia juga mempertanyakan status kawasan hutan serta legalitas pengelolaan lahan tersebut. Menurutnya, status kawasan maupun dasar penguasaan lahan harus diperiksa secara terbuka.

"Kalau memang lahan disita karena berada di kawasan hutan, buktikan dulu dong, betul tidak itu kawasan hutan," katanya.

Hingga berita ini ditulis, Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara, Mohammad Abdul Ghani, belum memberikan tanggapan atas tudingan tersebut. Upaya konfirmasi telah dilakukan, namun belum mendapatkan respons.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Riau Kombes Hasyim Risahondua membenarkan adanya laporan terkait penyerangan tersebut. Laporan telah dibuat di Polsek Tambusai Utara.

Polisi telah membawa para korban untuk menjalani visum, membuat laporan polisi, serta melakukan pemeriksaan terhadap korban.

"Tindakan selanjutnya, memeriksa saksi-saksi, mencari keberadaan pelaku-pelaku dan melengkapi berkas," kata Hasyim, Ahad (16/8).

Saat ini, polisi masih melakukan penyelidikan untuk mengidentifikasi para pelaku sekaligus memastikan kronologi dan motif di balik penyerangan tersebut. (TN)

#Satgas PKH #Penyerangan #Puluhan korban