TABLOIDTIRAI.COM - Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) resmi menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) akibat lonjakan kasus demam malaria yang terus meningkat. Hingga Selasa (4/8), jumlah penderita tercatat mencapai 2.355 kasus dengan penyebaran terbesar berada di Kecamatan Sinaboi, Pasir Limau Kapas, dan Kecamatan Bangko.
Menindaklanjuti kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rohil menggelar rapat penanggulangan di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Kompleks Perkantoran Batu Enam, Bagan Punak. Pertemuan yang dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) serta para Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) itu menghasilkan keputusan untuk membentuk Satuan Tugas (Satgas) khusus penanganan KLB malaria.
Dalam susunan Satgas tersebut, Wakil Bupati Rohil, Jhony Charles, dipercaya sebagai Komandan Satgas (Dansatgas). Sementara Kepala Dinas Kesehatan Rohil, Afrida, ditunjuk sebagai Ketua Posko, dengan Sekretaris Daerah (Sekda) Rohil, Fauzi Efrizal, menjabat sebagai Wakil Ketua.
Jhony Charles menjelaskan, Posko KLB akan menjadi pusat koordinasi dalam penanganan wabah, mulai dari deteksi dini, pemantauan perkembangan kasus, mitigasi, evaluasi harian, hingga penyusunan kebijakan strategis untuk mempercepat pengendalian penyebaran malaria.
"Tugas Posko KLB itu menjadi pusat kendali, deteksi dini, pemantauan, perkembangan kasus, mitigasi, evaluasi harian, dan menyusun kebijakan langkah strategis mempercepat pengendalian wabah," ujar Jhony Charles, dilansir dari Goriau.com, Selasa (4/8).
Ia juga menegaskan bahwa situasi darurat malaria di Rohil kini telah mendapat perhatian di tingkat nasional. Sebagai bagian dari upaya penanganan, Pemerintah Kabupaten Rohil dijadwalkan menerima kunjungan tim dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat dalam waktu dekat guna membantu pengendalian wabah.
Berdasarkan catatan GoRiau.com, malaria yang menyerang ribuan warga tersebut disebabkan oleh parasit Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Secara medis, terdapat lima jenis Plasmodium, yakni Falciparum yang memiliki risiko paling fatal, serta Vivax, Ovale, Malariae, dan Knowlesi yang menyerang organ hati dan aliran darah.
Di sisi lain, masyarakat yang tinggal di wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, seperti Kecamatan Sinaboi, Pasir Limau Kapas, dan Kecamatan Bangko, berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata di lapangan. Warga meminta penanganan wabah diprioritaskan demi keselamatan masyarakat.
"Walaupun efisiensi anggaran, namun anggaran untuk bencana atau musibah sudah ada anggarannya, bukan satu alasan," ujar salah seorang warga yang tinggal di kawasan terdampak. (TN)
#Malaria #2.355 kasus #KLB