TABLOIDTIRAI.COM - Pengangkatan Muhammad Sambu Harman, S.A.P sebagai Komisaris PT SPR Langgak menuai sorotan tajam dari berbagai pihak. Penunjukan tersebut dinilai kontroversial karena usia Sambu yang masih sangat muda serta dianggap minim pengalaman di sektor Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).
Sejumlah kalangan menilai, jabatan strategis setingkat komisaris seharusnya diisi oleh sosok yang matang secara pengalaman dan memiliki rekam jejak yang kuat di bidangnya. Selain itu, isu nepotisme turut mencuat ke permukaan. Hal ini tidak terlepas dari latar belakang keluarga Sambu sebagai putra dari Suparman, mantan pejabat teras di Riau dan Rokan Hulu, yang dikenal memiliki kedekatan dengan SF Hariyanto, Pelaksana Tugas Gubernur Riau saat ini.
Kritik keras disampaikan oleh aktivis Gerakan Pemuda Peduli Riau Bermarwah (Garda Prima), Raja. Ia menilai, posisi komisaris bukanlah jabatan yang bisa diberikan tanpa pertimbangan matang.
“Secara pribadi, Sambu adalah pemuda yang baik dan potensial. Namun pergerakannya terlalu cepat. Ia bahkan belum genap satu tahun lulus kuliah dan belum memiliki pengalaman di BUMD. Wajar jika publik meragukan kapasitasnya. Jabatan komisaris ini penting, bukan jabatan receh,” ujar Raja, Rabu (15/7).
Sementara itu, seorang narasumber lain yang meminta identitasnya disamarkan menyebutkan bahwa pengangkatan tersebut diduga telah diatur sebelumnya. Ia menduga adanya praktik “kongkalikong” yang melibatkan sejumlah pihak berpengaruh.
Menurutnya, kedekatan Suparman dengan SF Hariyanto menjadi faktor kunci dalam proses tersebut. Bahkan, ia menyebut adanya dugaan skenario penempatan Haris Kampay sebagai Direktur PT SPR, yang kemudian membuka jalan bagi penunjukan Sambu sebagai Komisaris di PT SPR Langgak.
“Kuncinya tetap di SF Hariyanto. Beliau punya wewenang, dan Suparman sangat dekat dengan beliau,” ungkapnya, belum lama ini.
Meski demikian, di tengah derasnya kritik dan sorotan publik, Sambu Harman tidak menunjukkan tanda-tanda mundur. Ia justru menjadikan kritik tersebut sebagai motivasi untuk membuktikan kemampuannya.
Dilansir dari cakaplah.com, Kamis (16/7), Sambu menyatakan bahwa dirinya telah melalui tahapan fit and proper test sebelum ditetapkan sebagai komisaris. Ia juga menyampaikan komitmennya untuk membangun sinergi dengan Direktur PT SPR Langgak, Satria Antoni.
“Saya ingin sejalan dengan direktur. Saya yakin kombinasi ini bisa meningkatkan pendapatan PT SPR Langgak, apalagi beliau senior saya di HMI. Saya yakin kami bisa berbuat banyak,” ujarnya.
Sebelumnya, PT SPR Langgak secara resmi menetapkan Muhammad Sambu Harman sebagai Komisaris dan Dr. Satria Antoni sebagai Direktur melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) yang digelar pada 19 Juni 2026.
Penunjukan Sambu menjadi perhatian luas publik, tidak hanya karena usianya yang masih 22 tahun, tetapi juga karena latar belakang keluarganya sebagai anak dari mantan Ketua DPRD Riau sekaligus mantan Bupati Rokan Hulu. Polemik ini pun diprediksi masih akan terus bergulir seiring meningkatnya perhatian masyarakat terhadap tata kelola BUMD di Riau. (TIM)
#BUMD Riau #Muhammad Sambu Harman #SPR Langgak