TABLOIDTIRAI.COM - Pemadaman listrik massal atau black out yang melanda hampir seluruh wilayah Pulau Sumatera semalam memicu gelombang kekecewaan masyarakat. Gangguan listrik terjadi secara merata di berbagai daerah dengan durasi yang berbeda-beda. Ada wilayah yang mengalami pemadaman selama 3 jam, 6 jam, bahkan hingga 12 jam. Tidak sedikit pula masyarakat yang mengaku listrik di daerah mereka belum juga menyala hingga lebih dari 15 jam.
Kondisi tersebut membuat aktivitas masyarakat lumpuh. Sejumlah pelaku usaha mengaku mengalami kerugian akibat terganggunya operasional bisnis, mulai dari usaha kuliner, toko ritel, layanan internet, hingga industri rumahan. Selain itu, jaringan komunikasi dan akses digital di beberapa daerah juga dilaporkan ikut terganggu.
Informasi sementara menyebutkan bahwa gangguan diduga terjadi akibat masalah pada sistem transmisi kelistrikan interkoneksi Sumatera yang menyebabkan pasokan listrik terganggu secara luas. Sejumlah wilayah terdampak di antaranya Provinsi Riau, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, hingga sebagian wilayah Sumatera Utara dan Lampung.
Aktivis mahasiswa asal Pekanbaru, Juna Asri Wirawan, menilai permintaan maaf dari pihak PLN tidak cukup untuk menjawab penderitaan dan kerugian masyarakat akibat blackout besar tersebut. “Permintaan maaf tidak akan mengganti kerugian masyarakat. Banyak usaha mati total, makanan rusak, aktivitas ekonomi lumpuh, masyarakat dibuat menderita berjam-jam tanpa kepastian. Ini bukan persoalan sepele dan tidak bisa dianggap selesai hanya dengan kata maaf,” tegas Juna, Sabtu (23/5).
Ia juga mendesak General Manager PT PLN UID Riau-Kepri Didik Wicaksono dan Direktur Utama PLN Persero Darmawan Prasodjo untuk bertanggung jawab secara serius atas kekacauan yang terjadi di Pulau Sumatera, khususnya di Kota Pekanbaru dan Provinsi Riau.
“Kami mendesak GM PLN UID Riau-Kepri dan Dirut PLN bertanggung jawab penuh atas kerugian yang dialami masyarakat luas. Jangan hanya muncul setelah listrik hidup lalu menyampaikan klarifikasi normatif dan minta maaf. Kerugian yang materi dan immateri yang dialami masyarakat tidak kembali utuh hanya dengan permintaan maaf," tandas Juna.
Juna Asri bahkan melontarkan kritik keras terhadap manajemen PLN yang dinilainya gagal memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat. “Kalau tidak mampu mengelola sistem kelistrikan dengan baik, lebih baik mundur saja. Jangan rakyat terus yang dijadikan korban akibat lemahnya antisipasi dan buruknya manajemen krisis. Blackout skala besar seperti ini menunjukkan ada persoalan serius dalam tata kelola kelistrikan nasional,” katanya tajam.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat di sejumlah daerah masih mengeluhkan kondisi listrik yang belum stabil. Banyak warga berharap PLN tidak hanya memberikan penjelasan, tetapi juga menghadirkan langkah konkret dan bentuk tanggung jawab nyata atas kerugian yang dialami masyarakat akibat blackout massal tersebut. (Rido)
#PLN #Mahasiswa Riau #Black Out Sumatera #PLN Kacau